text ku

YA ALLAH...YA ALLAH...YA ALLAH

Jumat, 29 Oktober 2010

Mengingat Dosa Waktu Sakit


Sedikit sekali orang yang sedang sakit terhindar dari empat dosa, yaitu tamak, berbohong, mengeluh, dan riya. 
Sufyan Al Tsauri


Amir bin Qais tampak menangis ketika ajal menghampirinya. Dia berkata,”Aku menangis bukan karena takut terhadap ke matian dan cinta kepada dunia. Namun, Aku khawatir sepanjang hidupku tidak kugunakan untuk ketaatan. Aku sering khilaf dan berdosa kepada Allah Ta’ala. Aku juga sering lalai untuk menghidupkan malam selama musim dingin.”
Ketika Umar bin Abd Al Aziz sedang sakit, banyak dokter berdatangan untuk mengobatinya. Kemudian, ada seorang dokter yang memeriksanya dan berkata, perasaan takut orang ini kepada Allah benar-benar telah memuncak sehingga livernya terganggu. Aku tidak mampu untuk mengobatinya. Menjelang wafatnya, beliau ber doa,”Ya Allah, aku telah berbuat dosa. Bila engkau membentangkan ampunan-Mu, sungguh aku mendapat anugerah. Bila engkau menyiksaku, sungguh engkau telah berbuat adil. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Tidak lama kemudian, dia berpulang ke rahmatullah.
Dari dua contoh di atas, harusnya menjadi pelajaran bagi kita untuk terus meningkatkan ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah Yang Maha Kuasa agar kita senantiasa belajar dari takdir. Dan kita berharap agar dipanggil dalam khusnul khatimah. Amin. Bagaimana pendapat pembaca ?
Read More...

Jumat, 22 Oktober 2010

Yakin dengan Pertolongan Allah

“ Wahai manusia, sekiranya kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa seisi bumi kemudian kamu bertemu Aku dengan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku datang kepadamu dengan membawa ampunan seisi bumi pula.”
(Hadist Qudsi riwayat imam Tirmizi)

“Orang yang paling pongah adalah orang yang sepanjang hidupnya bermaksiat kepada Allah, tetapi ia selalu mengharapkan ampunanNya.” Said bin Jubair

Bila kita baca hadist Qudsi di atas maka rasa optimis tentu terbersit dari dalam lubuk hati kita yang dalam. Namun kita haruslah introspeksi diri terhadap harapan yang Allah berika tersebut. Orang-orang shaleh selalu menyertakan harapan dengan usaha. Ketika kita mengharapkan limpahan karunia Allah, maka kita haruslah giat bekerja meningkatkan kuntitas dan kualitas amal ibadah, selalu istiqamah dijalan Allah dan rajin munajad dan berdoa. Sehingga pada saat mengharap ampunanan Allah maka kita harus menigkatkan amal shaleh dan menjauhi segala dosa lahir dan batin.
Hasan Al-Basri berkata,” Banyak orang yang meninggal dunia tanpa membawa kebaikan sedikitpun. Hal itu karena mereka terkecoh oleh harapan besar pada ampunan Allah Swt. Akhirnya mereka sering menunda taubat dan meremehkan dosa.”
Abdullah bin Al Mubarak berkata,” Berharap yang sesungguhnya adalah melakukan amal secara benar. Engkau tidak bisa mengharap ampunan Allah dengan maksiat. Engkau tidak bisa mengharap karunia Allah dengan menunda-nunda amal. Engkau tidak bisa mengharap ampunan Allah dengan kepongahan. Engkau tidak bisa mengharap surga dengan angan-angan. Engkau tidak bisa mengharap keselamatan di akhirat dengan gegabah.
Saudara seiman, untuk merahi ampunan Allah harus serius dalam beribadah dan beramal shaleh, menjahui segala yang dilarang Allah dan menjalankan segala perintahNya, dan kita jadi kan Allah SWT sebagai penolong dan pelindung kita. Insya Allah apa yang kita harapkan Allah akan kabulkan. Amin.
Read More...

Jumat, 15 Oktober 2010

Mengagungkan Al Quran

“Membaca Al Quran yang hakiki adalah menyatukan lisan, akal, dan hati untuk memahami Al Quran dan mengamalkan isinya.” Imam Al Ghazali
Perkataan Imam Al Ghazali di atas dapat dimaknai yaitu, tugas lisan adalah membaca huruf-huruf Al Quran dengan benar dan tartil. Tugas akal adalah menafsirkan makna-maknanya. Tugas hati adalah menerima isi petuahnya serta menerapkannya dalam tindakan. Jadi lisan membaca dengan tartil, akal menerjemahkan dan hati menerima petuahnya. Maka dari itu untuk mendapatkan Rahmat Allah jaga kebersiahan lahir dan batin, Bacalah Al Quran dengan serius. Mengagungkan kalam Allah tidak bisa dilakukan tanpa menghadirkan hati yang bersih dan tekad yang kuat untuk mengamalkan isinya. Ulama-ulama zuhud, orang-orang saleh bila membaca Al Quran ketika membaca ayat-ayat azab, air matanya bercucuran hingga membasahi janggotnya. Ada juga yang jatuh pingsan karena mendengarkan ayat-ayat yang menceritakan fenomena hari kiamat, dan lain lain. Jadi hati yang bening, tenang, suci dan keinginan yang kuat untuk selalu mengamalkan isi Al Quran adalah kunci kekuatan mereka untuk dekat dan di cintai Allah Swt. Marilah kita coba membaca Al-quran dengan penghormatan yang tinggi seolah-olah kita sedang ber dialog dengan Allah kemudian terus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, Insya Allah Rahmat-NYA akan sampai pada kita.amin.
Read More...

Jumat, 08 Oktober 2010

PENGALAMAN MURID PERGURON TRI RASA BANDUNG

Di era tahun Delapan puluhan di kota Bandung tepatnya jalan SOKA bertempat di gedung sekolah SD Soka yang sekarang kantor DIKNAS setiap hari minggu di adakan latihan penca dan tenaga dalam di naungi perguron “TRI RASA” Bandung.
Suatu ketika Reza di ajak teman untuk menyaksikan latihan, dalam latihan Reza lihat kok berbeda sekali dengan karate, tekwando, silat dan lain lain di lihat dari segi jurus dan gerakannya. Setelah gerakan pemanasan dan jurus selesai maka dilanjutkan dengan latihan aplikasi dari jurusan yang dipelajari. Bagi teman yang telah harkatan (tingkatan dimana seseorang telah selesai 10 jurus ) dia di ajarkan penjabaran setiap jurus untuk di aplikasikan lewat tembakan-tembakan. Pada tingkat harkatan ini si A bergerak cukup dengan jurus satu dan si B melakukan tembakan. Di sini akan ketahuan apakah jurusnya benar atau tidak. Dalam hal ini guru akan menilai di mana kekurangan si A atau apa saja yang belum di kuasai oleh si B. Pada saat kita melakukan tembakan akan ketahuan ilmu yang di pelajari oleh si A , apakah dia punya amalan atau bela diri sebelumnya. Jadi kita tidak bisa bohong walau dalam formulir perjanjian kita katakan tidak pernah belajar bela diri atau tidak punya ilmu/amalan. Pokoknya pada saat ditembak apakah ente pernah belajar sesuatu atau tidak akan kelihatan nanti, kalau tak percaya mari kita buktikan. Setelah melihat suasana latihan kurang lebih dua minggu akhirnya Reza mendaftarkan diri untuk melulai latihan.
Dalam latihan nampon ini di perlukan niat yang kuat dan tekad juga harus optimal sebab latihan jurus satu saja bisa satu bulan, dua bulan dan ada yang tiga bulan tergantung apakah kita mau melatihnya di rumah. Sistim yang di gunakan pada saat itu ialah latihan dilakukan dirumah masing-masing dan di tempat latihan diutamakan pengecakan hasil latihan di rumah. Kalau kita mampu latihan dua jam setara dengan seribu langka insya Allah proses pengisiannya akan lebih cepat. Memang sangat mengasyikan pada saat kita sedang melakukan aktraksi tembakan sebab banyak hal-hal yang aneh yang kita temukan. Kok bisa ya tanpa bacaan dan mantra orang bisa jatuh, terpental menjerit, melompat dll. Inilah yang membuat Reza semakin penasaran dan jawabannya berlatih dan berlatih terus. Suatu ketika kami latihan di medan terbuka tengah malam di maribaya tempatnya antara curuq / air terjun dan gunung. Dipimpin langsung oleh guru kami Drs.Zainal Maftuh dan Drs. Lili sumantri. Kita semua maklum,cuaca tengah malam di Maribaya cukup dingin namun saat kami latihan rasa dingin tak terasa lagi, kami larut dengan jurus sesuai dengan tingkatannya dan pada saat itu Reza baru jurus tiga (nangkrong). Saat memasuki sesion tembatakan maka tibalah giliran Reza di cek langsung oleh pak Zein dan Pak Lili terjadi hal yang luar biasa ketika ditembak Reza seperti kena strum, arus mengalir dari bawah(telapak kaki) sampai keatas( kepala) luar biasa , dasyat gumam Reza dalam hati.
Sejak bukti inilah Reza semakin rajin dan tekun latihan di rumah. Keinginan yang kuat dan tekad yang membara untuk menekuni ilmu nampon Tri Rasa ini momentumnya adalah sejak latihan alam terbuka di Maribaya. Reza harus bisa dan menuntaskan jurus-jurus nampon ini. Alhamdulillah Reza mampu merahinya. Inilah kisah nyata yang dapat Reza sampaikan mudah-mudahan ada guna dan manfaatnya buat penggemar ilmu tenaga dalam. Anda yang mencari ilmu haruslah menguatkan niat dan tekad, untuk mendapatkannya.
Read More...

Menyambut Waktu Shalat


“Sesungguhnya shalat adalah amanat yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung tetapi mereka menolak. Kemudian, aku menerimanya meski aku tak tahu apakah diriku mampu memenuhi tatakramanya ataukah tidak.”   Iman Ali bin Abi Thalib

Persiapan apa saja yang telah kita bangun untuk menyambut tamu agung sebelum bertemu dengan-NYA. Biasanya hamba Allah yang sholeh senantiasa menyiapkan diri untuk menyambut waktu shalat. Dimulai mendengarkan suara adzan, hamba tersebut merasa dekat kepada Allah dan terasa gelisah jiwanya, apakah aktivitas rutinnya diteruskan atau ia rela memenuhi panggilan tersebut.
Ada hamba Allah yang terlihat pucat ketika waktu shalat tiba dan badannya bergetar atau mengigil karena mereka mendengar panggilan Zat Yang Maha Gagah. Mereka takut tidak dapat memenuhi panggilan-Nya. Artinya mereka sangat takut bila Allah marah atau murka pada nya.
Maka dari itu, ia berusaha merasakan keagungan Allah di mulai dari berwudhu dengan benar. Dengan kondisi suci dimana fikiran dan rasanya hanya tertuju kepada Allah SWT lalu bersiapa memulai shalat. Hamba ini sangat bahagia karena kenikmatan hakiki akan ia temukan dalam shalat. Shalat adalah sarana komunikasi antara seseorang dengan Kekasihnya. Jika engkau selalu senang ketika bercakap-cakap dengan orang yang engkau cintai, tentu engkau akan sangat bahagia ketika bercengkrama dengan Allah Yang Maha Mulia. Jika engkau merasa tidak pantas ngelantur di saat berbicara dengan orang yang engkau cintai, engkau pasti akan sangat khusuk beribadah kepada Allah yang memiliki ketulusan cinta kepadamu.
Menunaikan shalat adalah memenuhi janji yang pernah aku ikrarkan sebelum lahir kedunia. Aku takut jika pemenuhan janjiku penuh dengan kekurangan dan hanya mendapat cercaan dari Nya. Kata hamba Allah tersebut. Mudah-mudahan kita dapat mencontoh dan mencobah apa yang dikerjakan hamba Allah tersebut.amin.
Read More...

Jumat, 01 Oktober 2010

Bijaksana dan Saleh Ketika Umur Bertambah

“Semakin bertambah usia hamba mukmin seharusnya semakin bertambah pula ilmu dan kesalehannya.” Ali bin Abi Thalib r.a.
Apabila seseorang bertambah umur,sedangkan kesadaran rohaninya tidak bertambah, maka ia termasuk orang yang merugi pada hari kemudian. Bila anak muda tidak mempunyai sikap toleran kepada orangtua, ia akan dicampakkan oleh orang lain pada hari tuanya. Jika orang tua tidak mempunyai sifat sabar, ia akan dijauhi oleh orang-orang. Cobaan terberat yang akan engkau hadapi pada masa tuamu ialah cepat tersinggung oleh siapapun. Engkau ingin dimanja, tapi anak keturunanmu banyak merasa kesal dengan keadaan dirimu. Jadi berlapang dadalah engkau menghadapi hari tua dan pupuklah kesalehanmu sekarang juga, supaya tumbuh pohon ketaatan, kesabaran dan ketenangan dalam jiwa mu. Insya Allah, engkau akan menikmati hari tuamu dalam suasana dekat kepada Allah dengan memperbanyak istighfar, zikir dan munajad kepada Allah Ta’ala. Jangan berputus asa dengan Rahmat Allah ,berupayalah engkau untuk melatih diri agar tidak emosional, tidak mudah jengkel. Hati-hati, saat umurmu bertambah tua, emosimu cenderung meningkat,agar engkau diberi ketenangan dan kedamaian dekatlah pada Allah dalam shalat yang khusuk, perbanyak istighfar, panggil Allah dan berdialog dengan Allah dalam munajad. Harapan kita, mudah-mudahan Allah Ridha dengan usaha-usaha yang kita kerjakan.amin.
Read More...